Majelis ke Tiga Puluh Satu
3March 3, 2012 by Johar Manik
Tulisan berseri dan yang berikutnya akan dimuat dibawah ini merupakan bagian dari tulisan Dr.Adil bin Ali asy-Syafi, dosen tafsir dan ilmu-ilmu al-Qur`an King Saud Universitas yang diterjemahkan oleh Muhammad Iqbal Ghazali, Ma dengan editor Eko Abu Ziyad dan Team Islamhouse yang diterbitkan oleh Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah tahun 1430 H/2009 M dan tulisan ini Ane peroleh dari http://www.islamhouse.com
Ane berharap tulisan ini lebih bisa membuat kita semua merenungi diri mencapai kebaikan. Kepada kawan sekalian, Ane persilakan untuk mengapresiasi.
Majelis ke Tiga Puluh Satu
Kasih Sayang (Kelembutan) Nabi Kepada Umatnya (2)
Pembicaran tentang kasih sayang Nabi masih berlanjut.
Dari Anas bin Malik , ia berkata, ‘Ketika kami berada di masjid bersama Rasulullah , tiba-tiba datang seorang badawi, lalu kencing sambil berdiri di dalam masjid. Maka para sahabat Rasulullah berkata: ‘Berhenti, berhenti.’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Biarkanlah dia, janganlah kamu menghentikannya, maka mereka membiarkannya hingga selesai kencing. Kemudian Nabi memanggilnya seraya bersabda
“Sesungguhnya masjid ini tidak pantas bagi sesuatu dari kencing dan kekotoran ini, sesungguhnya ia untuk zikir kepada Allah dan membaca al-Qur`an.’
Anas berkata, ‘Kemudian beliau menyuruh seseorang, kemudian ia mengambil segayung air, lalu menyiramkannya kepadanya.’ (Muttafaqun ‘alaih).
Di antara gambaran kelembutan Muhammad , sesungguhnya seorang pemuda datang kepada Nabi , ia berkata, ‘Ya Rasulullah, ijinkanlah aku berzinah.’ Maka orang-orang menghadap kepadanya dan menghardiknya serta berkata, ‘Diam, diam.’ Nabi bersabda, ‘Mendekatlah.’ Lalu ia mendekat kepadanya. Nabi bersabda, ‘Apakah engkau menyukainya untuk ibumu? Ia berkata, ‘Tidak demi Allah.’
Nabi bersabda, ‘Semua manusia tidak menyukainya untuk ibu mereka, apakah engkau menyukainya untuk putrimu?’ Ia menjawab, ‘Tidak demi Allah, wahai Rasulullah. Semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.’
Nabi bersabda, ‘Semua manusia tidak ada yang menyukainya untuk putri-putri mereka. Apakah engkau menyukainya untuk saudarimu? Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah. Semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusan engkau.’
Nabi bersabda, “Semua manusia tidak ada yang menyukainya untuk saudari-saudarinya, apakah engkau engkau menyukainya untuk bibimu (saudari bapakmu)? Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusan engkau.’
Nabi bersabda, ‘Semua manusia tidak ada yang menyukainya untuk bibi mereka, apakah engkau menyukainya untuk bibimu (saudari ibumu)? Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusan engkau.’
Nabi bersabda, ‘Dan semua manusia tidak ada yang menyukainya untuk bibinya (saudari ibu)? Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikan diri sebagai tebusan engkau.’
Beliau bersabda, ‘Dan semua manusia tidak ada yang menyukainya untuk bibi mereka.’ Kemudian beliau meletakkan kedua tangannya kepadanya dan berdoa:
“Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.’
Maka pemuda itu tidak pernah melihat kepada perzinahan setelah itu.’ (HR. Ahmad).
Dengan uslub (metode, tata cara) yang lembut seperti ini, Nabi bisa memasukkan ke dalam hati pemuda ini dan membuatnya merasa kotor terhadap perbuatan zina yang dia meminta ijin kepadanya, dan hal itu menjadi penyebab keshalihan istiqamah dan iffahnya pemuda ini,.
Di antara kelembutan Nabi terhadap umatnya, terdapat pada hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas , ia berkata, ‘Ketika Nabi sedang khutbah, tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri, maka beliau bertanya tentang dia, mereka menjawab, ‘Abu Israil bernazar bahwa ia berdiri di panas matahari dan tidak duduk, tidak berteduh dan tidak berbicara, dan berpuasa.’ Maka Nabi bersabda:
Suruhlah dia, hendaklah dia berbicara, berteduh, duduk, dan meneruskan puasanya.” (HR. al-Bukhari).
Di antara hal itu, hadits yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash , ia berkata, ‘Nabi diberitahu bahwa aku berkata, ‘Demi Allah, aku akan selalu puasa di siang hari dan shalat di malam hari selama hidupku.’ Nabi bertanya, ‘Apakah engkau yang mengatakan hal itu? Aku berkata kepadanya, ‘Sungguh aku telah mengatakannya, -tebusan engkau adalah ayah dan ibuku- wahai Rasulullah. Beliau bersabda:
‘Engkau tidak mampu melakukan hal itu.’ Maka puasa dan berbuka, tidur dan shalat, puasalah tiga hari dalam sebulan, maka sesungguhnya kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat, dan hal itu sama seperti puasa setahun.”
Dalam satu riwayat, ‘Apakah benar kabar kepadaku bahwa engkau puasa di siang hari dan shalat di malam hari? Aku menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah. Beliau bersabda, ‘Janganlah engkau lakukan, puasa dan berbukalah, tidur dan shalatlah. Maka sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atasmu, kedua matamu mempunyai hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, tamu engkau mempunyai hak atasmu, sesungguhnya cukuplah engkau puasa tiga hari setiap bulan. Sesungguhnya untukmu setiap kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, maka sesungguhnya hal itu sama puasa setahun. Abdullah berkata, ‘Aku memberatkan diri, maka diberatkan kepadaku.’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai kekuatan.’ Beliau bersabda, ‘Puasalah seperti puasa nabiyullah Daud , jangan engkau tambah atasnya.’ Aku bertanya, ‘Seperti apakah puasa Nabi Daud ? Beliau menjawab, ‘Puasa setengah tahun.’ Maka Abdullah berkata setelah lanjut usia, ‘Andaikan aku menerima keringanan yang diberikan Rasulullah .” Muttafaqun ‘alaih.
Sungguh Nabi kita dimuliakan Allah. Setelah berabad-abad baik perangai maupun contoh hidupnya masih mempengaruhi umat manusia
betapa Nabi Muhammad SAW. mempunyai sifat yang sangat terpuji
duh…, betapa rindunya hati ini kepada beliau
makasih banyak nggih, postingan ini sungguh bermanfaat sekali
Lemah lembut inilah kadang yang membuat orang begitu respek dengan Islam.